Lubang resapan
Biopori, begitulah namanya. Saat ini Biopori menjadi populer berkat jasa baik
Kamir S. Brata yang menerapkan teknologi tepat guna untuk mengatasi banjir dan
sampah, memelihara kelestarian air bawah tanah.
Ir. Kamir R.
Brata, M.Sc., staf konservasi tanah dan air Departemen Ilmu Tanah dan
Sumberdaya Lahan, Fakultas Pertanian Institut Pertanian Bogor menjelaskan
lubang resapan biopori atau LRB adalah lubang silindris yang dibuat ke dalam
tanah dengan diameter sepuluh sampai dengan tiga puluh sentimeter. Pada leaflet
Biopori dijelaskan, kedalamannya sekitar seratus sentimeter atau tidak melebihi
kedalaman muka air tanah. Lubang diisi sampah organik untuk mendorong
terbentuknya biopori. Biopori adalah pori berbentuk liang (terowongan kecil)
yang dibentuk oleh aktivitas fauna tanah atau akar tanaman.
Gubernur Jawa
Barat seperti tampak pada dokumentasi foto tengah membuat LRB yang berfungsi
sebagai teknologi tepat guna ramah lingkungan untuk meningkatkan laju peresapan
air hujan dan memanfaatkan sampah organik ke dalam tanah.
Sepuluh manfaat
LRB
(1) memelihara
cadangan air tanah, (2) mencegah terjadi keamblesan (subsidence) dan
keretakan tanah, (3) menghambat intrusi air laut, (4 )mengubah sampah organik
menjadi kompos, (5) meningkatkan kesuburan tanah, (6) menjaga keanekaragaman
hayati dalam tanah, (7) mengatasi masalah yang ditimbulkan oleh adanya genangan
air seperti demam berdarah, malaria, kaki gajah, (8) mengurangi masalah
pembuangan sampah yang mengakibatkan pencemaran udara dan perairan (9)
mengurang emisi gas rumah kaca (CO2 dan metan), (10) serta
mengurangi banjir, longsor, dan kekeringan.
Contoh lokasi
pembuatan LRB
LRB dapat
dibuat di dasar saluran yang semula dibuat untuk membuang air hujan (foto
pertama kiri), di dasar alur yang dibuat sekeliling batang pohon (foto 2 di
tengah) atau batas taman (foto 3 kanan).
Cara membuat
LRB
1. Buat lubang
silindris ke dalam tanah dengan diameter sepuluh sentimeter, kedalaman sekitar
seratus sentimeter atau tidak melampaui kedalaman air tanah pada dasar saluran
atau alur yang telah dibuat. Jarak antarlubang 50–100 cm.
2. Mulut lubang
dapat diperkuat dengan adukan semen selebar dua sampai dengan tiga sentimeter,
setebal dua sentimeter di sekeliling mulut lubang.
3. Segera isi
lubang LRB dengan sampah organik yang berasal dari sisa tanaman yang dihasilkan
dari dedaunan pohon, pangkasan rumput dari halaman atau sampah dapur.
4. Sampah
organik perlu selalu ditambahkan ke dalam lubang yang isinya sudah berkurang
menyusut karena proses pelapukan.
5. Kompos yang
terbentuk dalam lubang dapat diambil pada setiap akhir musim kemarau bersamaan
dengan pemeliharaan lubang.
Setelah
pembuatan LRB, jumlah LRB yang perlu dibuat berkaitan dengan banyaknya lubang
yang dapat dihitung dengan menggunakan persamaan berikut ini.
Jumlah LRB
Intensitas hujan (mm/jam) x luas bidang kedap (m2)
Laju Peresapan Air per Lubang (liter/jam)
Sebagai contoh
untuk daerah dengan intensitas hujan 50 mm/jam (hujan lebat), dengan laju
peresapan air per lubang tiga liter per menit (180 liter/jam) pada 100 m2
bidang kedap, perlu dibuat sebanyak (50 x 100): 180 = 28 lubang.
Bila lubang
yang dibuat berdiameter sepuluh sentimeter kedalaman seratus sentimeter, setiap
lubang dapat menampung 7,8 liter sampah organik. Itu artinya tiap lubang dapat
diisi sampah organik dapur dua sampai dengan tiga hari. Dengan demikian, 28
lubang baru dapat dipenuhi sampah organik yang dihasilkan selama 56-–84 hari
(dalam kurun waktu tersebut lubang perlu diisi kembali).
Biaya yang
dikeluarkan
Pembuatan LRB
dipermudah dengan alat bor tanah. Desainnya disesuaikan untuk kegunaan
peresapan air yang memakai pendekatan Biopori. Alat bor LRB juga diperlukan
untuk mempermudah pemanenan kompos yang terbentuk bersamaan dengan pemeliharaan
LRB.
Bila satu
lubang LRB dapat dibuat dalam waktu sepuluh menit, tiap rumah tangga perlu
membuat 30 LRB. Itu artinya pekerjaan selesai dalam waktu 300 menit (lima jam).
Jadi, perlu sehari per orang kerja (Rp 35 000,-).
Bila setiap
rumah tangga ingin memiliki bor LRB dengan harga bor
Rp175.000,00-–Rp200.000,00), maka diperlukan biaya (Rp205 000,00–Rp235 000,00).
Biaya itu dapat berkurang bila satu bor tanah dimiliki bersama oleh beberapa
orang.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar