Babadotan (Ageratum conyzoides) Tanaman Multi Fungsi yang menjadi inang potensial virus tanaman

Ageratum conyzoides Linn. merupakan tumbuhan dari famili Asteraceae.
Tumbuhan ini di berbagai daerah di Indonesia memiliki nama yang berbeda
antara lain di Jawa disebut babadotan, di Sumatera dikenal daun tombak,
dan di Madura disebut wedusan. Tumbuhan ini merupakan herba menahun,
tegak dengan ketinggian 30 - 80 cm dan mempunyai daya adaptasi yang
tinggi, sehingga mudah tumbuh di mana-mana dan sering menjadi gulma yang
merugikan para petani. Namun di balik itu Ageratum dapat
digunakan sebagai obat, pestisida dan herbisida, bahkan untuk pupuk
dapat meningkatkan hasil produksi tanaman. Di sisi yang lain Ageratum yang menunjukkan gejala lurik kekuningan dapat menjadi sumber penyakit bagi tanaman lain yang diusahakan di sekitarnya. Ageratum telah digunakan secara luas dalam pengobatan tradisional oleh masyarakat di ber-bagai belahan dunia. Di India, Ageratum
digunakan sebagai bakterisida, antidisentri dan anti-lithik. Sedangkan
di Brazil, pera-san/ekstrak tanaman ini sering dipakai untuk menangani
kolik, flu dan demam, diare, rheumatik dan efektif mengobati luka bakar.
Di Indonesia, Ageratum banyak digunakan untuk obat luka, radang (inflamasi) dan gatal-gatal. Yang
telah dibuktikan secara ilmiah sebagai obat anti-infla-masi. Prof. Elin
Yulinah Sukandar menemukan bahwa ekstrak babadotan yang dicampur dengan
ekstrak jahe terbukti efektif mengobati radang yang disebabkan bakteri Staphylococcus aureus pada kelinci percobaan. Selain itu Ageratum juga dapat menghambat pertumbuhan Bacillus subtilis, Eschericichia coli, and Pseudomonas aeruginosa.
Tak hanya daun ternyata akar tanaman ini pun berguna; menurut pakar dan
Ketua Himpunan Pengobatan Tra-disional dan Akupunktur Indonesia, Prof.
HM Hembing Wijayakusuma, akar babadotan dapat mengatasi disentri, diare
atau panas, dengan cara merebus 30 gram akar Ageratum, dengan 600 cc air hingga tersisa 300 cc, disaring dan diminum airnya selagi hangat.
Tabel 1. Pengaruh daun A. conyzoides terhadap pertumbuhan dan perkembangan tanaman padi.
| Perlakukan | Tinggi tanaman(mm) | Jumlah biji/bulir/ ranting | Hasil panen ( ton/ha) |
| Kontrol | 85,6 | 108,0 | 4,3 |
| A. conyzoides | 90,0 | 125,0 | 5,3 |
| Herbisida | 83,3 | 110,0 | 4,7 |
Ageratum sebagai herbisida alami dan sumber bahan organik
Bila kita perhatikan dengan teliti, tanaman Ageratum seringkali po-pulasinya lebih dominan dibandingkan tanaman liar lainnya dalam suatu lahan. Ageratum
diduga kuat mempunyai allelopathy, suatu keadaan di mana tanaman/bahan
tanaman mengeluarkan eksudat kimia yang dapat menekan pertumbuhan
tanam-an lainnya. Hasil penelitian Xuan et al., yang dilakukan di
Fakultas Pertanian, Universitas Miyazaki, Jepang, (Crop Protection,
2004, 23: (915 - 922), 2004; penggunaan daun Ageratum dengan dosis 2 ton/ha dapat menekan sampai 75% pertum-buhan beberapa gulma pada perta-naman padi seperti Aeschynomene indica, Monochoria vaginalis, dan Echinochloa crusgalli var. Formosensis Ohwi. Kemampuan daun Ageratum
sebagai allelopathy diidentifikasi karena adanya 3 phenolic acid yaitu
gallic acid, coumalic acid dan protocatechuic acid, yang dapat
menghambat pertumbuhan beberapa gulma pada tanaman padi.
Selain
itu penggunaan daun tanaman ini dapat meningkatkan pertumbuhan dan
hasil panen padi. Tanaman padi yang diperlakukan dengan daun Ageratum
meningkat 22% lebih baik dibandingkan kontrol, dan 14% dibanding dengan
penggunaan herbisida (Tabel 1). Hal tersebut diduga karena penambahan
daun Ageratum meningkatkan kandungan nitrogen dalam tanah yang
sangat diperlukan bagi per-tumbuhan padi. Melimpahnya tanaman ini yang
seringkali hanya dianggap sebagai gulma barangkali dapat menjadi sumber
pupuk kompos yang baik bagi tanaman, apalagi semakin mahalnya harga
pupuk bagi petani.
Apabila diperhatikan dengan teliti, lebih dari 30% tanaman Ageratum menunjukkan gejala lurik kekuningan seperti terserang virus (Gambar 1). Sejak kapan Ageratum
terserang virus, tak ada catatan sejarah yang pasti. Namun gejala virus
tersebut dalam berbagai tulisan telah ditemukan sejak lama dan diduga
sebagai sumber penyakit seperti pada tanaman tembakau, kapas, cabai,
tomat, jarak pagar, dan lain-lain. Pada tahun 1995, Tan dkk berhasil
mengidentifikasi virus dari Ageratum di Singapura sebagai spesies Begomovirus dan famili Geminiviridae, dan dinamakan Ageratum yellow vein virus (AYVV, X74516).
Meluasnya serangan geminivirus khususnya dari spesies Begomovirus pada beberapa tanaman yang dibudidayakan juga memerlukan perhatian untuk meneliti keberadaan virus pada gulma termasuk Ageratum yang kemungkinan akan menjadi sumber inokulum. Saat ini beberapa spesies Begomovirus telah teridentifikasi dari Ageratum di Cina (Ageratum yellow vein China virus-[Hn2]; AYVCNV-[Hn2], AJ495813), Taiwan Ageratum yellow vein Taiwan virus; AYVTWV, AF30786), dan Sri Lanka Ageratum yellow vein Sri Lanka virus; AYVSLV, AF314144).
Di Indonesia keberadaan virus pada Ageratum
sudah diketahui sejak lama, namun keberadaan ten-tang jenis virus
tersebut masih ku-rang diperhatikan. Hasil identifikasi Gemini virus
pada Ageratum asal Bandung, Purwokerto, Yogyakarta dan Malang telah terdaftar di Gene Bank (http://www.ddbj.nig.ac.jp/Wel come-e.html)(AgPur-2, AB189851; AgBadI-1, AB189852; AgMal-4, AB18953; AgMag-2, AB189854; AgBadII-2, AB189913).
Penelitian
geminivirus pada tanaman tomat asal Indonesia yang dilakukan oleh
pe-neliti dari universitas Tohoku, Jepang yang dipimpin oleh Prof.
Ikegami Masato, ternyata spesies geminivirus yang sama pada Ageratum ditemukan juga pada tanaman tomat (Journal of Phytopathology 2005, 153 : 562 - 566, Lebih lanjut Pepper yellow leaf curl Indonesia virus yang berasal dari tanaman cabai juga ditemukan pada tanaman Ageratum (Plant Disease. Volume 91 No. 9. 2007). Hal tersebut menunjukkan bahwa tanaman Ageratum
yang bergejala virus dapat menjadi sumber penyakit untuk tanaman tomat
dan cabai yang telah banyak menimbulkan kerugian akibat serangan
geminivirus.
Melihat manfaatnya yang begitu banyak akan tanaman Ageratum tidak
ada salahnya jika tanaman ini dilestarikan agar tak punah, bahkan
mungkin membudidayakannya. Namun apabila tanaman ini menunjukkan gejala
daun lurik menguning, kemungkinan akan menjadi sumber virus yang akan
menyerang tanaman yang diusahakan
Tidak ada komentar:
Posting Komentar